Semantics: Inisiasi 2

semanticsBerikut adalah materi Inisiasi 2 mata kuliah Semantics, materi yang diberikan mengenai peran konteks dalam pemaknaan bahasa dan pendapat yang dikemukakan para pakar bahasa. Ada beberapa peran konteks antara lain: konteks situasi, konteks budaya dan majas (style), inisiasi selengkapnya silakan lihat dibawah ini:

Peran Konteks Dalam Pemaknaan Bahasa

Saudara mahasiswa, selamat berjumpa pada inisiasi II. Kali ini kita akan membahas tentang Peran Konteks Dalam Pemaknaan Bahasa. Pada modul 1 telah dijelaskan bahwa makna bahasa tergantung pada konteks.

Seringkali tidak mungkin menentukan makna suatu kata tanpa menempatkannya pada konteks. Konteks dapat membantu kita dalam memaknai atau memahami makna yang tertuang dalam bahasa. Secara umum ada dua macam konteks yaitu konteks linguistik dan konteks situasi. Konteks linguistik muncul sebelum atau sesudah kata, frasa, kalimat atau teks. Sedangkan konteks situasi membantu kita dalam memahami makna kata atau frasa tertentu.

Ada dua pendapat yang dikemukakan oleh para pakar dibidang bahasa mengenai peran konteks ini. Pendapat yang pertama menyatakan bahwa makna bahasa seharusnya terlepas dari konteks. Para pakar dalam bidang ini lebih cenderung mengkaji makna bahasa hanya dari sisi peran kata dan kaitan antar kata dalam sebuah kalimat. Perhatikan contoh berikut ini : kalimat yang berganda makna seperti Chicken is ready to eat, dapat dijelaskan tanpa mengkaitkannya dengan konteks; tetapi jika kita ingin memperjelas makna pada kalimat ini kita dapat uraikan menjadi Chicken is ready to be eaten dengan mendasarkan pada aturan tata bahasa. Pendapat yang kedua menyatakan bahwa konteks tidak dapat dipisahkan dari kajian makna bahasa. Berdasarkan kedua kecenderungan itu, adalah lebih baik bagi kita apabila kajian makna bahasa mempertimbangkan kedua kecenderungan itu, mengingat kajian makna bahasa tidak hanya mencakup makna kata dan makna kalimat saja melainkan makna ujaran.

Peran konteks situasi dalam pemaknaan bahasa.
Istilah konteks situasi diungkapkan oleh Malinowski dan Firth. Kedua pakar ini menyatakan bahwa makna bahasa dipengaruhi oleh konteks situasi penggunaan bahasa. Mereka menyarankan agar ciri-ciri yang ada pada situasi harus telihat/teridentifikasi; misalnya ciri yang menyangkut penutur dan pendengar, tempat bertutur, obyek yang dibicarakan serta pengaruh dari apa yang diungkapkan oleh penutur.

Contoh : Kemarin, Si Amir telihat duduk di dekat kali.
Dari segi tempat dan obyek -> Amir duduk di dekat kali.
Dari segi partisipan -> ungkapan ini disampaikan oleh seseorang kepada orang lain.
Maksud ungkapan ->  memberikan informasi kepada orang lain.

Konteks, Budaya dan Majas (Style)
Kaum behavioris juga menekankan konteks situasi dalam pemaknaan bahasa. Bloomfield menyatakan bahwa pemaknaan ujaran sangat ditentukan oleh persepsi pengguna bahasa terhadap situasi berbahasa yang dihadapinya. Ciri-ciri situasi berbahasa ini diwujudkan melalui unsur-unsur kebahasaan melalui penggunaan kata ganti atau yang biasa disebut deiksis. Ada tiga tipe deiksis yaitu :

  1. Deiksis yang menghubungkan antar penutur dan partisipan misalnya I, we, you (b.Inggris) atau saya, kami dan Anda dalam bahasa Indonesia.
  2. Deiksis yang menunjukkan jarak atau posisi penutur misalnya, here, there, this dan that (b.Inggris) atau di sini dan di sana (b.Indonesia).
  3. Deiksis yang menunjukkan waktu misalnya now, then, yesterday, tomorrow (b.Inggris) atau sekarang, nanti, kemarin dan besok (b.Indonesia).

Deiksis selalu subyektif dalam artian isi dapat diinterpretasikan hanya dengan merujuk kepada penutur; misalnya, bila anda bertanya kepada seseorang tentang rumah seseorang, dan anda mendapat jawaban seperti “Oh rumah Bapak Ahmad disana, dekat wartel. Setelah di cek ternyata jarak rumah tersebut cukup jauh. Jadi penggunaan deiksis sangat bergantung pada penutur atau pendengar jika kita kaji maknanya.

Aspek lain dari sebuah konteks digambarkan dalam bentuk hubungan sosial antara penutur dan pendengar. Dalam bahasa Indonesia kita mengenal perbedaan pemakaian kata ganti (pronomina) yang menunjukkan hubungan sosial; misalnya, kata ‘kalian’ menyiratkan hubungan antara atasan dengan bawahan, seperti antara guru dan murid sedangkan penggunaan kata ‘saudara’ menyiratkan hubungan kesejajaran antara pembicara dan pendengar seperti pembicaraan di antara sesama rekan kerja.

Selain bentuk sapaan, dalam berkomunikasi ada tiga ciri lain dari majas atau style yaitu kewenangan yang berkaitan dengan pekerjaan atau profesi, misalnya bahasa hukum, sains dan lain-lain, kemudian kedudukan yang berhubungan dengan hubungan sosial terutama dari segi formal dan ketidak formalan dan modalitas yang berhubungan dengan puisi,prosa, esai, bahasa telegram dan lain-lain.
Hurford dan Heasley (1983) menyebutkan bahwa konteks sebuah ujaran adalah sub bagian kecil dari wacana yang dimiliki baik oleh penutur maupun pendengar. Oleh karena peran konteks dalam pemaknaan bahasa mempunyai batasan.

Untuk memperjelas materi inisiasi ini Anda bisa membaca Modul 2 BMP Semantics/PRIS4335 dan mengerjakan soal-soal latihan serta test formatifnya.

Selamat Belajar dan Semoga Sukses!

Salinan catatan saya dapat diambil di sini.

Tagged as: , , , ,

Leave a Response